FAIL (the browser should render some flash content, not this).

 


  

27/07/2010 10:30:15


 HOME
 NORMA
       Sapta Marga
       Sumpah Prajurit
       11 Asas Kepemimpinan
       8 Wajib TNI
 PRASAJA
       Struktur
       Pangdam
       Kasdam
       Jajaran
       Pejabat
       Hari Jadi
       Peta Dislokasi Kodam VII
       Penugasan
       Visi & Misi Kodam VII
 SEJARAH
       Organisasi
       Panglima
       Perjuangan
 IDENTITAS
       Lambang
       Pataka
       Mars
 SATUAN KODAM VII/ WRB
       Korem Santiago
       Korem Tadulako
       Korem Toddopuli
       Korem Tatag
       Korem Halu Oleo
       Batalyon
 PENDAFTARAN PRAJURIT
       Pendaftaran AKMIL
       Pendaftaran PA PK
       Pendaftaran Bintara
       Pendaftaran Tamtama
 ARTIKEL
       Artikel
 KONTAK
 GALLERY

 COMMENTS

 

Anda Pengunjung ke - 185

PERJUANGAN

Dalam dekade 1950-1960 banyak sekali terjadi gangguan keamanan dalam negeri yang bersumber dari munculnya gerakan kelompok bersenjata yang bercita-cita mendirikan Negara. Berbagai gangguan keamanan tersebut dihadapi oleh Kodam VII /Wirabuana (ketika itu Kodam XIV/Hasanuddin) masih resmi berdiri) Banyak jenis operasi yang telah dilakukan diwilayah Sulawesi pada umumnya dengan melibatkan seluruh kekuatan yang dimiliki.

Proklamasi DI/TII Kahar Muzakkar sebagai bagian dari ‘Negara Islam Indonesia” Kartosoewirjo merupakan pernyataan pemberontakan terhadap kekuasaan negara yang sah, selain pembangkangan pada idiologi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Perlu dicatat bahwa sebelum Kahar Muzakkar memproklamirkan berdirinya DI/TII, beberapa Operasi Militer dan Teritorial dilancarkan terhadap TKR yang dipimpim Kahar Muzakkar seperti Operasi Merdeka dan Operasi-Operasi Teritorial lainnya.

Sementara operasi-operasi penghancuran terhadap gerombolan DI/TII juga dilaksanakan meskipun sifatnya lokal dan terbatas didaerah tertentu, seperti Operasi Bawakaraeng tanggal 1 sampai 25 Februari 1959 di sekitar Gunung Bawakaraeng, Malino sampai ke Malakaji. Operasi Turatea dilancarkan sejak 13 sampai 17 Maret 1959 di sekitar daerah Takalar, Jeneponto dan Bantaeng.Operasi Selayar 20 sampai 26 Agustus 1959 di Pulau Selayar dan Pulau-pulau disekitarnya. Operasi-operasi tersebut selain berhasil mengajak sejumlah pasukan DI/TII untuk kembali kepangkuan Ibu Pertiwi juga berhasil menyelamatkan rakyat yang sebelumnya dipaksa menyediakan segala keperluan logistik pemberontak.

Operasi-operasi itu secara langsung telah mendesak posisi pasukan DI/TII kedaerah-daerah terpencil disamping melemahkan kepercayaan anggota pasukan dan masyarajat terhadap kepemimpinan Kahar Muzakkar di daerah yang bersangkutan. Ini menyebabkan timbulnya perpecahan dikalangan pimpinan DI/TII.

Dalam kegiatan Operasi Penumpasan DI/TII, tercatat beberapa Operasi Penting digelar Serentak ke berbagai basis gerombolan di Sulselra. Operasi-operasi tersebut dilancarkan dengan dukungan tempur cukup besar sehingga setiap pertempuran senantiasa menimbulkan kerugian bagi pihak gerombolan baik berupa kerugian personel, materiil maupun hilangnya wilayah-wilayah kekerasan, diantara operasi-operasi teresbut adalah :

1) Operasi Badai.

Ditujukan untuk menghancurkan kekuatan dan basis pertahanan pusat perhubungan dan latihan serta basis pembekalan gerombolan DI/TII dari wilayah Ujung Lamuru – Palattaei Kajuara sampai Ke Sinjai, yang dikuasai 40.000 dan pasukan “Resort IV”.

2) Operasi Garuda.

Operasi Garuda dilaksanakan selama dua bulan, dari tanggal 28 Oktober hingga 28 Nopember 1959 ditunjukkan untuk menghubungkan kembali jalur darat, Makassar – Watampone Via Maros – Camba yang sejak 1953 di kuasai DI/TII.

3) Operasi Guntur.

Setelah bazis-bazis utama DI/TII dikawasan Selatan Palopo dikuasai prajurit-prajurit TNI dalam operasi 45 dan hampir setahun setelah pasukan bantuan dari RTP V/Brawijaya di tarik dari Palopo daerah-daerah tersebut terutama wilayah yang berada antara Palopo dan Wajo berhasil direbut kembali oleh gerombolan DI/TII.

4) Operasi Kilat.

Sembilan bulan setelah operasi Guntur menghancurkan basis-bazis terpenting Kahar Muzakkar di Palopo Selatan, pemerintah kembali mengumumkan dimulainya lagi operasi tempur dan operasi Teritorial di wilayah Sulselra. Operasi itu dilancarkan setelah kesempatan unuk menyerah yang diberikan kepada Kahar Muzakkar dan orang-orang DI/TII.

5) Operasi Kilat II.

Tindak lanjut upaya pemulihan keamanan di Sulselra, maka sesuai Surat Perintah Panglima KOANDAIT NO. 1 Tahun 1963 tanggal 25 Oktober 1963 dilancarkan kembali Operasi Kilat, dengan tugas utama menghancurkan sisa-sisa gerombalan DI/TII Kahar Muzakkar dan sisa-sisa Permesta pimpinan D. Gerungan.

6) Operasi Tumpas.

Guna menyelesaikan secara tuntas masalah keamanan secara menyeleuruh di Indonesia Timur serta dalam rangka melaksanakan konsolidasi kekuatan TNI untuk mengemban amanah Trikora maka Panglima Komando Daerah Indonesia Timur (KOANDAIT) mengomandokan pelaksanaan “Operasi Tumpas” pada tahun 1962.

7) Operasi Menumpas Pemberontakan.

Setelah pengkuan kedaulatan RI, maka Indonesia Timur merupakan kawasan yang penuh pergolakan. Bila di Sulawesi Selatan dan Tenggara terjadi pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar, maka di Sulawesi Utara dan Tengah muncul Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI)/Permesta).

8) Operasi Merdeka.

Makar di Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah, sejak awal telah menimbulkan ketidak senangan baik dikalangan Angkatan Perang maupun tokoh-tokoh masyarakat diwilayah tersebut. Karena Samuel, Somba Runurambi dkk ternyata memiliki ambisi tertenu yang menyimpang dari tujuan murni piagam Permesta. Penyimpangan itu dipertegas lagi dukungan Somba terhadap PRRI dan pernyataan melepaskan diri dari Pemerintah RI.

9). Operasi Sapta Marga I.

Operasi Sapta Marga-I dipimpin oleh Letkol Inf Soemarsono dengan kekuatan pasukan terdiri dari Yon 501 Brawijaya, Yon 601/Tanjungpura dan Kompi Khusus dari KOANDAIT. Operasi dilaksanakan pada awal April 1958 dengan tugas membebaskan Sulawesi Tengah terutama kota Donggala, Palu, Parigi kemudian ke wilayah Taweli, Kuwali, Badak, Poso, Taipa terus ke Tentena.

10) Operasi Sapta Marga II.

Operasi Sapta Marga-I membebaskan Sulawesi Tengah, Operasi Sapta Marga-II mengemban tugas utama Operasi ini membebaskan Gorontalo dan sekitarnya termasuk lapangan terbang Tolotio sekaligus memberi dukungan terhadap gerilyawan pimpinan Nani Wartabone.

Dipimpin Mayor Agoes Prasmono, operasi ini berkekuatan, satuan pasukan dari Yonif 726 Kodam XIV/Hasanuddin, Yon 512/Brawijaya dan Detasemen khusus KOANDAIT.

11) Operasi Sapta Marga-III.

Wilayah operasi Sapta Marga-III yang dipimpin Letkol Inf E.J. Mangenda lebih luas dari wilayah dua bagian operasi lainnya. Didukung oleh tigas detasemen dari Yon “G”/Brawijaya dan Yon 601/Tanjungpura, Satuan KKO/AL, Yon 432/Diponegoro, Yon “A” Brawijaya pasukan khusus RPKAD dan PGT/AURI yang didukung oleh dua Kapal Perang, serta Skuadron AURI.

12) Operasi-Operasi Intelijen.

PRRI/Permesta memiliki organisasi Pemerintahan dan angkatan bersenjata yang cukup, maka dalam kondisi memprihatinkan upaya pergerakan anti pemerintah dilaksanakan melalui organisasi-organisasi bawah tanah yang beroperasi ditengah masyarakat.

13) Trikora.

Trikora atau Tiga Komando Rakyat yang berintikan Pembebasan Irian Barat dari Tangan Kolonial Belanda, dicetuskan oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang RI Soekarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961.

14) Dwikora.

Berselang 1 tahun setelah masalah Irian Barat terselesaikan, prajurit Kodam VII/Wirabuana kembali dihadapkan kepada ancaman terhadap kedaulatan Republik Indonesia.

15) Gerakan G30S/PKI.

Ditengah kekalutan ekonomi yang ditandai dengan tingginya Inflasi dalam negeri, dan sulitnya rakyat memperoleh bahan pangan dan sandang, ditambah gendarnya isu dan agitasi politik yang membingungkan PKI dengan Dewan Revolusinya melakukan pembunuhan yang keji atas enam Jenderal dan seorang Perwira menengah TNI-AD pada 1 Oktober 1965.





PANGDAM VII/WRB
Mayjen TNI Bachtiar, S.IP, M.AP






 

 

Majalah Citrabuana


Edisi September-Oktober 2013

 


Edisi November-Desember 2013


Edisi Januari-Februari 2014


Penpas Oktober


Pengumuman

Copyright 2010 © Kodam VII/Wirabuana. All rights reserved.   |   Supported by JOGJAIDE